Assignment; watch the movies in trans TV (box office movies)or listen news every day in BBC LOndon/The kangguru english Magazines every night/day. write down the movies/listen the audio and make a report briefly...thanks
------------------------------------------------------------
Listening handout/students work book.
prepare your flash disk and copies-fee
Senin, 08 Agustus 2011
Minggu, 10 April 2011
Gorontalo Palace
The international Confrence on education management, administration and leadership at Gorontalo April,8-10th 2011
The International Conference of educational Management, administration, and Leadership (ICEMAL) merupakan forum ilmiah dalam meningkatkan kerjasama perguruan tinggi se-ASEAN, terutama dalam bidang manajemen pendidikan.
ICEMAIL dicetuskan dan didirikan di Bandung di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2008 dan dimantapkan secara paripurna pada tahun 2010 di Yogyakarta, dan pertemuan ketiga di Universitas Negeri Gorontalo. Kehadiran ICEMAL sebagai forum internasional telah meningkatkan kerjasama para pakar ilmu administrasi, manajemen pendidikan dan kepemimpinan baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini tampak dari partisipasi berbagai perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri dalam kegiatan ICEMAL.Konfrensi ICEMAL tahun 2011 lebih terfokus pada penegasan jatidiri ICEMAL sebagai forum ilmiah internasional yang professional.
Selanjutnya, Kegiatan seminar didasarkan pada adanya keinginan semua negara untuk meningkatkan mutu (kualitas) pendidikannya. Diyakini bahwa manajemen pendidikan merupakan ‘entry point’ pada peningkatan mutu pendidikannya. Oleh karena itu dalam seminar dan konfrensi ini diangkat tema mengaktualisasikan teori dan konsep manajemen pendidikan, administrasi, dan kepemimpinan, untuk peningkatan kualitas dan mutu pendidikan
Visiting the international boarding school MA Insan Cendikia Gorontalo with MAlaya University lecturer;Prof.Dato' Hussein Hj Ahmad, Dr Zuraidah Binti Ahmad, & Suria Binti Baba,Ph.D
The end of the Confrence
dinner party;
Obsesi sang Doktor,menuju Professor!!
(the inspirate man who heritage The sasak spirite on struggle in science and education)
The international Confrence on education management, administration and leadership at Gorontalo April,8-10th 2011
The International Conference of educational Management, administration, and Leadership (ICEMAL) merupakan forum ilmiah dalam meningkatkan kerjasama perguruan tinggi se-ASEAN, terutama dalam bidang manajemen pendidikan.
ICEMAIL dicetuskan dan didirikan di Bandung di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2008 dan dimantapkan secara paripurna pada tahun 2010 di Yogyakarta, dan pertemuan ketiga di Universitas Negeri Gorontalo. Kehadiran ICEMAL sebagai forum internasional telah meningkatkan kerjasama para pakar ilmu administrasi, manajemen pendidikan dan kepemimpinan baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini tampak dari partisipasi berbagai perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri dalam kegiatan ICEMAL.Konfrensi ICEMAL tahun 2011 lebih terfokus pada penegasan jatidiri ICEMAL sebagai forum ilmiah internasional yang professional.
Selanjutnya, Kegiatan seminar didasarkan pada adanya keinginan semua negara untuk meningkatkan mutu (kualitas) pendidikannya. Diyakini bahwa manajemen pendidikan merupakan ‘entry point’ pada peningkatan mutu pendidikannya. Oleh karena itu dalam seminar dan konfrensi ini diangkat tema mengaktualisasikan teori dan konsep manajemen pendidikan, administrasi, dan kepemimpinan, untuk peningkatan kualitas dan mutu pendidikan
Visiting the international boarding school MA Insan Cendikia Gorontalo with MAlaya University lecturer;Prof.Dato' Hussein Hj Ahmad, Dr Zuraidah Binti Ahmad, & Suria Binti Baba,Ph.D
The end of the Confrence
dinner party;
Obsesi sang Doktor,menuju Professor!!
(the inspirate man who heritage The sasak spirite on struggle in science and education)
Rabu, 23 Februari 2011
Rabu, 26 Januari 2011
Terorisme & kaum muda
Menarik menyimak headline SOLOPOS, (26/1) tentang penangkapan delapan orang yang diduga terlibat terorisme oleh Densus 88.
Tujuh di antara mereka masih belia, berumur antara 18-21 tahun, sebagian masih siswa.
Sepatutnya kita tidak tergesa-gesa mendakwa mereka sebagai teroris sebelum pengadilan menetapkan demikian. Namun jika benar, penting bagi kita untuk merefleksikan secara mendalam mengapa hal itu bisa terjadi.
Sebenarnya keterlibatan remaja dalam terorisme di Indonesia bukan barang baru. Yang terlibat bom Ritz Carlton pertengahan 2009 lalu berusia 18 tahun. Di sisi lain tak bisa dipungkiri tren masuknya pikiran-pikiran intoleran pada kaum muda mulai menggejala. Hal itu tak jarang dimanfaatkan oleh para jaringan terorisme.
Sekolah dan intoleransi
Di antara pertanyaan mendasar yang layak kita ajukan adalah apakah kaum muda selama ini terlupakan dalam agenda kampanye anti intoleransi? Apakah kaum muda menerima pelajaran-pelajaran agama yang cenderung bercorak intoleran terhadap perbedaan?
Memang ide tentang intoleransi tidak berkaitan langsung dengan ide terorisme atau kekerasan yang lain. Meskipun demikian, sulit dibayangkan seseorang dengan pikiran yang terbuka, toleran dan antikekerasan terlibat dalam terorisme.
Beberapa riset menunjukkan kampanye intoleransi telah menyasar kaum muda. Sebagian pegiat dialog dan pemerhati pendidikan sebenarnya mulai menyadari hal ini.
Penelitian Farha Ciciek (2008) dari Rahima Jakarta menunjukkan saat ini di sebagian sekolah terjadi penguatan dan transformasi pandangan-pandangan intoleran dari luar sekolah ke siswa melalui kegiatan-kegiatan keagamaan di bawah payung kegiatan ekstrakurikuler.
Sebelumnya, sebuah penelitian tentang pendidikan agama yang diterbitkan Interfidei Yogyakarta tahun 2007 juga menyinyalir rendahnya penanaman sikap toleransi dalam kurikulum pendidikan agama dan pengajaran di sekolah-sekolah.
Menariknya, penelitian Interfidei tersebut juga menemukan adanya upaya keras dari sebagian kecil guru agama yang mencoba mengkreasi pendidikan agama untuk lebih terbuka. Apa artinya? Meskipun masih sedikit, kegelisahan atas model pendidikan agama yang ada saat ini juga muncul di kalangan pendidik.
Pentingnya penelitian Ciciek terletak pada upayanya melengkapi penelitian Interfidei sebelumnya bahwa sikap intoleransi tidak saja bisa muncul dari kurikulum dan pengajaran agama di kelas tapi juga kegiatan-kegiatan di luar kelas.
Satu penelitian lagi dilakukan Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM, 2007. Di sini ditemukan meskipun pengajaran agama dan lingkungan keagamaan di sekolah cenderung eksklusif, nyatanya sikap siswa sendiri tak selalu eksklusif. Siswa juga belajar dari keluarga, media dan lingkungan tempat tinggalnya. Pengalaman hidup sehari-hari di luar sekolah yang ramah dan terbuka pada perbedaan tak jarang lebih mengakar kuat pada kaum muda, dibanding pandangan eksklusif yang didapat dari sekolah.
Keluarga & masyarakat
Penelitian yang disebut terakhir tentu tidak serta-merta mementahkan dua riset yang disebut sebelumnya. Pemahaman terhadap ketiga kajian tersebut secara utuh malah membantu kita memahami realitas kaum muda dengan lebih baik.
Kekhawatiran bahwa kaum muda telah terjatuh pada eksklusivisme merupakan sikap ketakutan yang berlebihan. Meskipun demikian, dari fakta keterlibatan beberapa remaja dalam aksi terorisme dan kekerasan yang lain menjadi pengingat yang selayaknya mulai diperhatikan bahwa rasa penghargaan pada perbedaan tak selalu disemai dalam pendidikan agama di kelas dan lingkungan keagamaan di sebagian sekolah.
Sayangnya Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Kesenian dan Pendidikan Bahasa juga tidak dieksplorasi dengan baik. Padahal PKn seharusnya bisa “menyelesaikan” ketegangan yang dihasilkan oleh model pendidikan agama seeksklusif apapun. Siswa berhak memiliki pemahaman agama eksklusif tapi PR-nya dalam PKn adalah tiap siswa (warga negara) meski memahami prinsip kesetaraan di depan hukum dan pentingnya sikap antidiskriminasi.
Mentransformasikan nilai-nilai keagamaan yang terbuka dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler sekolah adalah penting. Tapi, tak kalah pentingnya mengajak para aktivis keagamaan mengalami kebersamaan dalam keragaman entah dengan label kegiatan apapun.
Selain itu usaha memasuki budaya populer rupanya kini telah dicoba sebagai medium dialog seperti dalam bidang creative writing dan pembuatan film dokumenter, melengkapi metode live in dan youth camp yang selama ini telah lazim.
Para aktivis dan pemerhati dialog kini dituntut mengeksplorasi lebih jauh jalan-jalan baru dialog, tak terkecuali dialog bagi kaum muda. Sejauh pengetahuan penulis terhadap usaha-usaha di bidang ini, bahasa ”mengalami” (to experience) adalah lebih kuat, membekas dan tertanam bagi kaum muda dibanding bahasa “mengetahui” (to know).
Mengenai tema dialog, sebagai agen yang kreatif kaum muda sepatutnya diberi ruang seluas-luasnya untuk berkreasi. Bahasa ”perbedaan” bagi kaum muda mungkin bisa saja diterjemahkan tidak perbedaan agama semata tapi agama dalam perbedaan kelas sosial, ekonomi, orientasi seks, live style atau yang lain.
Selain di sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat tidak bisa lepas tangan. Sebab sebagian besar waktu kaum muda dihabiskan bukan di sekolah tapi di rumah bersama keluarga dan masyarakat. Seharusnya di sini juga dipasang semacam alarm sosial. Sehingga, sejak awal bisa dideteksi jika yang bersangkutan menunjukkan tanda-tanda yang ganjil.
Penanganan terorisme bukan hanya tugas Densus 88 tapi kita semua. Kalau benar semakin banyak kaum muda tertarik pada terorisme, ini merupakan aba-aba bahwa kita harus semakin peduli. - Oleh : Suhadi Cholil Dosen Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM
Menarik menyimak headline SOLOPOS, (26/1) tentang penangkapan delapan orang yang diduga terlibat terorisme oleh Densus 88.
Tujuh di antara mereka masih belia, berumur antara 18-21 tahun, sebagian masih siswa.
Sepatutnya kita tidak tergesa-gesa mendakwa mereka sebagai teroris sebelum pengadilan menetapkan demikian. Namun jika benar, penting bagi kita untuk merefleksikan secara mendalam mengapa hal itu bisa terjadi.
Sebenarnya keterlibatan remaja dalam terorisme di Indonesia bukan barang baru. Yang terlibat bom Ritz Carlton pertengahan 2009 lalu berusia 18 tahun. Di sisi lain tak bisa dipungkiri tren masuknya pikiran-pikiran intoleran pada kaum muda mulai menggejala. Hal itu tak jarang dimanfaatkan oleh para jaringan terorisme.
Sekolah dan intoleransi
Di antara pertanyaan mendasar yang layak kita ajukan adalah apakah kaum muda selama ini terlupakan dalam agenda kampanye anti intoleransi? Apakah kaum muda menerima pelajaran-pelajaran agama yang cenderung bercorak intoleran terhadap perbedaan?
Memang ide tentang intoleransi tidak berkaitan langsung dengan ide terorisme atau kekerasan yang lain. Meskipun demikian, sulit dibayangkan seseorang dengan pikiran yang terbuka, toleran dan antikekerasan terlibat dalam terorisme.
Beberapa riset menunjukkan kampanye intoleransi telah menyasar kaum muda. Sebagian pegiat dialog dan pemerhati pendidikan sebenarnya mulai menyadari hal ini.
Penelitian Farha Ciciek (2008) dari Rahima Jakarta menunjukkan saat ini di sebagian sekolah terjadi penguatan dan transformasi pandangan-pandangan intoleran dari luar sekolah ke siswa melalui kegiatan-kegiatan keagamaan di bawah payung kegiatan ekstrakurikuler.
Sebelumnya, sebuah penelitian tentang pendidikan agama yang diterbitkan Interfidei Yogyakarta tahun 2007 juga menyinyalir rendahnya penanaman sikap toleransi dalam kurikulum pendidikan agama dan pengajaran di sekolah-sekolah.
Menariknya, penelitian Interfidei tersebut juga menemukan adanya upaya keras dari sebagian kecil guru agama yang mencoba mengkreasi pendidikan agama untuk lebih terbuka. Apa artinya? Meskipun masih sedikit, kegelisahan atas model pendidikan agama yang ada saat ini juga muncul di kalangan pendidik.
Pentingnya penelitian Ciciek terletak pada upayanya melengkapi penelitian Interfidei sebelumnya bahwa sikap intoleransi tidak saja bisa muncul dari kurikulum dan pengajaran agama di kelas tapi juga kegiatan-kegiatan di luar kelas.
Satu penelitian lagi dilakukan Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM, 2007. Di sini ditemukan meskipun pengajaran agama dan lingkungan keagamaan di sekolah cenderung eksklusif, nyatanya sikap siswa sendiri tak selalu eksklusif. Siswa juga belajar dari keluarga, media dan lingkungan tempat tinggalnya. Pengalaman hidup sehari-hari di luar sekolah yang ramah dan terbuka pada perbedaan tak jarang lebih mengakar kuat pada kaum muda, dibanding pandangan eksklusif yang didapat dari sekolah.
Keluarga & masyarakat
Penelitian yang disebut terakhir tentu tidak serta-merta mementahkan dua riset yang disebut sebelumnya. Pemahaman terhadap ketiga kajian tersebut secara utuh malah membantu kita memahami realitas kaum muda dengan lebih baik.
Kekhawatiran bahwa kaum muda telah terjatuh pada eksklusivisme merupakan sikap ketakutan yang berlebihan. Meskipun demikian, dari fakta keterlibatan beberapa remaja dalam aksi terorisme dan kekerasan yang lain menjadi pengingat yang selayaknya mulai diperhatikan bahwa rasa penghargaan pada perbedaan tak selalu disemai dalam pendidikan agama di kelas dan lingkungan keagamaan di sebagian sekolah.
Sayangnya Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Kesenian dan Pendidikan Bahasa juga tidak dieksplorasi dengan baik. Padahal PKn seharusnya bisa “menyelesaikan” ketegangan yang dihasilkan oleh model pendidikan agama seeksklusif apapun. Siswa berhak memiliki pemahaman agama eksklusif tapi PR-nya dalam PKn adalah tiap siswa (warga negara) meski memahami prinsip kesetaraan di depan hukum dan pentingnya sikap antidiskriminasi.
Mentransformasikan nilai-nilai keagamaan yang terbuka dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler sekolah adalah penting. Tapi, tak kalah pentingnya mengajak para aktivis keagamaan mengalami kebersamaan dalam keragaman entah dengan label kegiatan apapun.
Selain itu usaha memasuki budaya populer rupanya kini telah dicoba sebagai medium dialog seperti dalam bidang creative writing dan pembuatan film dokumenter, melengkapi metode live in dan youth camp yang selama ini telah lazim.
Para aktivis dan pemerhati dialog kini dituntut mengeksplorasi lebih jauh jalan-jalan baru dialog, tak terkecuali dialog bagi kaum muda. Sejauh pengetahuan penulis terhadap usaha-usaha di bidang ini, bahasa ”mengalami” (to experience) adalah lebih kuat, membekas dan tertanam bagi kaum muda dibanding bahasa “mengetahui” (to know).
Mengenai tema dialog, sebagai agen yang kreatif kaum muda sepatutnya diberi ruang seluas-luasnya untuk berkreasi. Bahasa ”perbedaan” bagi kaum muda mungkin bisa saja diterjemahkan tidak perbedaan agama semata tapi agama dalam perbedaan kelas sosial, ekonomi, orientasi seks, live style atau yang lain.
Selain di sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat tidak bisa lepas tangan. Sebab sebagian besar waktu kaum muda dihabiskan bukan di sekolah tapi di rumah bersama keluarga dan masyarakat. Seharusnya di sini juga dipasang semacam alarm sosial. Sehingga, sejak awal bisa dideteksi jika yang bersangkutan menunjukkan tanda-tanda yang ganjil.
Penanganan terorisme bukan hanya tugas Densus 88 tapi kita semua. Kalau benar semakin banyak kaum muda tertarik pada terorisme, ini merupakan aba-aba bahwa kita harus semakin peduli. - Oleh : Suhadi Cholil Dosen Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM
Langganan:
Komentar (Atom)

