Selasa, 25 September 2012


ESP LAW
English law is the legal system of England and Wales,[1] and is the basis of common law[2] legal systems used in most Commonwealth countries[3]and the United States (as opposed to civil law or pluralist systems in other countries, such as Scots law). It was exported to Commonwealth countries while the British Empire was established and maintained, and it forms the basis of the jurisprudence of most of those countries. English law prior to the American revolution is still part of the law of the United States through reception statutes, except in Louisiana, and provides the basis for many American legal traditions and policies, though it has no superseding jurisdiction. English law in its strictest sense applies within the jurisdiction of England and Wales. Whilst Wales now has a devolved Assembly, any legislation which that Assembly enacts is enacted in particular circumscribed policy areas defined by the Government of Wales Act 2006, other legislation of the U.K. Parliament, or by orders in council given under the authority of the 2006 Act. Furthermore that legislation is, as with any by-law made by any other body within England and Wales, interpreted by the undivided judiciary of England and Wales.[4] Also see below. The essence of English common law is that it is made by judges sitting in courts, applying their common sense and knowledge of legal precedent (stare decisis) to the facts before them. A decision of the highest appeal court in England and Wales, the House of Lords, is binding on every other court in the hierarchy, and they will follow its directions. For example, there is no statute making murder illegal. It is a common law crime - so although there is no written Act of Parliament making murder illegal, it is illegal by virtue of the constitutional authority of the courts and their previous decisions. Common law can be amended or repealed by Parliament; murder, by way of example, carries a mandatory life sentence today, but had previously allowed the death penalty. England and Wales are constituent countries of the United Kingdom, which is a member of the European Union. Hence, EU law is a part of English law. The European Union consists mainly of countries which use civil law and so the civil law system is also in England in this form. The European Court of Justice can direct English and Welsh courts on the meaning of areas of law in which the EU has passed legislation. The oldest law currently in force is the Distress Act 1267, part of the Statute of Marlborough, (52 Hen. 3).[5] Three sections of Magna Carta, originally signed in 1215 and a landmark in the development of English law, are extant, but they date to the reissuing of the law in 1297
==============================
Jokes>>>>>>>>>>

History of Lawyers


Why God Created Lawyers
Satan was complaining bitterly to God, "You made the world so that it was not fair, and you made it so that most people would have to struggle every day, fight against their innate wishes and desires, and deal with all sorts of losses, grief, disasters, and catastrophes. Yet people worship and adore you. People fight, get arrested, and cheat each other, and I get blamed, even when it is not my fault. Sure, I'm evil, but give me a break. Can't you do something to make them stop blaming me?"
And so God created lawyers.
TOBELO HALMAHERA UTARA

Menghadiri acara KongresKe-IV Masyarakat Adat Nusantara 19-25 April 2012 di Tobelo Halmahera Utara
Team Masyarakat Adat NTB 
Perjalanan panjang Lombok menuju Halmahera Utara bersama 39 Tokoh Adat dan Budayawan NTB upaya menunjukkan identitas kebudayaan NTB;
dalam kesempatan tersebut sekaligus mendampingi  masyarakat NTB dalam fungsi bahasa; menjadi penerjemah bahasa. karena sehebat apapun kita di daerah tentu kita butuh komunikasi untuk menyampaikan maksud untuk mengenalkan budaya yang sama kita cintai ini. salah satunya menjadi penyambung lidah anatra budayawan kita dengan mis clara yang aktif sebagai peneliti oilpalm       di negara eropa serta menjelaskan tentang budaya sasak dan kearifan lokal lainnya padasalah satu reporter dari jerman.
uniq namun melegakan dada, yang paling mengesankan ketika bertemu dengan masyarakat sasak-lombok yang merantau dan menetap di Tobelo diKampung Baru. dalam luang waktu diminta masyarakat sasak yang sudah lama disana untuk mengajarkan anak-anak mereka bahasa sasak
satu minggu di Tobelo mengajarkan anak-anak dan termasuk 'dedare dan terune nyalah' bahasa  sasak dan budaya sasak.. yang masih terngiang di telinga ketika salah satu murid disana. sebut aja namanya 'eny' dia bilang... 'Kaka aneh aja ite base Sasak' peranakan sasak namun berbahasa Tobelo dan berbudaya setempat.     mereka tau lombok-sasak hanya dari cerita orang tua mereka. 
airport sultan baabullah ternate
pelabuhan ternate dan masjid agung ternate dan gunung Gamalama






Bersama Bupati Halmahera Utara

Team NTB

Medical Check up

Miss Clara

bersama kepala suku irian dll
germany reporter

perempuan adat palu

pemuda adat nusantara

mencicipi buah pala

receptionist


dinner party

pemuda adat tobelo kak ferdy
kaka melky papua


dedare sasak dikampung baru Tobelo
salah satu muridyang belajar bahasa sasak

Senin, 08 Agustus 2011

Assignment; watch the movies in trans TV (box office movies)or listen news every day in BBC LOndon/The kangguru english Magazines every night/day. write down the movies/listen the audio and make a report briefly...thanks
------------------------------------------------------------

Listening handout/students work book.
prepare your flash disk and copies-fee


Minggu, 10 April 2011

Gorontalo Palace



















The international Confrence on education management, administration and leadership at Gorontalo April,8-10th 2011


The International Conference of educational Management, administration, and Leadership (ICEMAL) merupakan forum ilmiah dalam meningkatkan kerjasama perguruan tinggi se-ASEAN, terutama dalam bidang manajemen pendidikan.
ICEMAIL dicetuskan dan didirikan di Bandung di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2008 dan dimantapkan secara paripurna pada tahun 2010 di Yogyakarta, dan pertemuan ketiga di Universitas Negeri Gorontalo. Kehadiran ICEMAL sebagai forum internasional telah meningkatkan kerjasama para pakar ilmu administrasi, manajemen pendidikan dan kepemimpinan baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini tampak dari partisipasi berbagai perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri dalam kegiatan ICEMAL.Konfrensi ICEMAL tahun 2011 lebih terfokus pada penegasan jatidiri ICEMAL sebagai forum ilmiah internasional yang professional.
Selanjutnya, Kegiatan seminar didasarkan pada adanya keinginan semua negara untuk meningkatkan mutu (kualitas) pendidikannya. Diyakini bahwa manajemen pendidikan merupakan ‘entry point’ pada peningkatan mutu pendidikannya. Oleh karena itu dalam seminar dan konfrensi ini diangkat tema mengaktualisasikan teori dan konsep manajemen pendidikan, administrasi, dan kepemimpinan, untuk peningkatan kualitas dan mutu pendidikan















Visiting the international boarding school MA Insan Cendikia Gorontalo with MAlaya University lecturer;Prof.Dato' Hussein Hj Ahmad, Dr Zuraidah Binti Ahmad, & Suria Binti Baba,Ph.D
















The end of the Confrence
dinner party;















Obsesi sang Doktor,menuju Professor!!
(the inspirate man who heritage The sasak spirite on struggle in science and education)

Rabu, 23 Februari 2011


Pelatihan Pembimbing Usaha UMKM & TTP (Trade Tie Up Promotion Program) Jayakarta Hotel 22-27 Pebruari 2011 by Kadin (KAmar Dagang dan Industri)NTB, dan JETRO (Japan External Trade Organization)


Industri Krupuk kulit Bunga Mawar Seganteng

Rabu, 26 Januari 2011

Te­ro­ris­me & ka­um mu­da

Me­na­rik me­nyi­mak he­a­dli­ne SO­LO­POS, (26/1) ten­tang pe­nang­kap­an de­la­pan orang yang di­du­ga ter­li­bat te­ro­ris­me oleh Den­sus 88.

Tu­juh di an­ta­ra me­re­ka ma­sih be­lia, ber­umur an­ta­ra 18-21 ta­hun, se­ba­gi­an ma­sih sis­wa.

Se­pa­tut­nya ki­ta ti­dak ter­ge­sa-ge­sa men­dak­wa me­re­ka se­ba­gai te­ro­ris se­be­lum peng­adil­an me­ne­tap­kan de­mi­ki­an. Na­mun ji­ka be­nar, pen­ting ba­gi ki­ta un­tuk me­re­flek­si­kan se­ca­ra men­da­lam meng­apa hal itu bi­sa ter­ja­di.

Se­be­nar­nya ke­ter­li­bat­an re­ma­ja da­lam te­ro­ris­me di In­do­ne­sia bu­kan ba­rang ba­ru. Yang ter­li­bat bom Ritz Carlton per­te­ngah­an 2009 la­lu ber­usia 18 ta­hun. Di si­si lain tak bi­sa di­pung­ki­ri tren ma­suk­nya pi­kir­an-pi­kir­an in­to­le­ran pa­da ka­um mu­da mu­lai meng­ge­ja­la. Hal itu tak ja­rang di­man­fa­at­kan oleh pa­ra ja­ring­an te­ro­ris­me.

Se­ko­lah dan in­to­le­ran­si

Di an­ta­ra per­ta­nya­an men­da­sar yang la­yak ki­ta aju­kan ada­lah apa­kah ka­um mu­da se­la­ma ini ter­lu­pa­kan da­lam agen­da kam­pa­nye an­ti in­to­le­ran­si? Apa­kah ka­um mu­da me­ne­ri­ma pe­la­jar­an-pe­la­jar­an aga­ma yang cen­de­rung ber­co­rak in­to­le­ran ter­ha­dap per­be­da­an?

Me­mang ide ten­tang in­to­le­ran­si ti­dak ber­kai­tan lang­sung de­ngan ide te­ro­ris­me atau ke­ke­ras­an yang lain. Mes­ki­pun de­mi­ki­an, su­lit di­ba­yang­kan se­se­o­rang de­ngan pi­kir­an yang ter­bu­ka, to­le­ran dan an­ti­ke­ke­ras­an ter­li­bat da­lam te­ro­ris­me.

Be­be­ra­pa ri­set me­nun­juk­kan kam­pa­nye in­to­le­ran­si te­lah me­nya­sar ka­um mu­da. Se­ba­gi­an pe­gi­at dia­log dan pe­mer­ha­ti pen­di­dik­an se­be­nar­nya mu­lai me­nya­da­ri hal ini.

Pe­ne­li­ti­an Fa­rha Ci­ci­ek (2008) da­ri Ra­hi­ma Ja­kar­ta me­nun­juk­kan sa­at ini di se­ba­gi­an se­ko­lah ter­ja­di pe­ngu­at­an dan trans­for­ma­si pan­dang­an-pan­dang­an in­to­le­ran da­ri lu­ar se­ko­lah ke sis­wa me­la­lui ke­gi­at­an-ke­gi­at­an ke­aga­ma­an di ba­wah pa­yung ke­gi­at­an eks­tra­ku­ri­ku­ler.

Se­be­lum­nya, se­buah pe­ne­li­ti­an ten­tang pen­di­dik­an aga­ma yang di­ter­bit­kan In­ter­fi­dei Yog­ya­kar­ta ta­hun 2007 ju­ga me­nyi­nya­lir ren­dah­nya pe­na­nam­an si­kap to­le­ran­si da­lam ku­ri­ku­lum pen­di­dik­an aga­ma dan peng­ajar­an di se­ko­lah-se­ko­lah.

Me­na­rik­nya, pe­ne­li­ti­an In­ter­fi­dei ter­se­but ju­ga me­ne­mu­kan ada­nya upa­ya ke­ras da­ri se­ba­gi­an ke­cil gu­ru aga­ma yang men­co­ba meng­kre­a­si pen­di­dik­an aga­ma un­tuk le­bih ter­bu­ka. Apa ar­ti­nya? Mes­ki­pun ma­sih se­di­kit, ke­ge­li­sah­an atas mo­del pen­di­dik­an aga­ma yang ada sa­at ini ju­ga mun­cul di ka­lang­an pen­di­dik.

Pen­ting­nya pe­ne­li­ti­an Ci­ci­ek ter­le­tak pa­da upa­ya­nya me­leng­ka­pi pe­ne­li­ti­an In­ter­fi­dei se­be­lum­nya bah­wa si­kap in­to­le­ran­si ti­dak sa­ja bi­sa mun­cul da­ri ku­ri­ku­lum dan peng­ajar­an aga­ma di ke­las ta­pi ju­ga ke­gi­at­an-ke­gi­at­an di lu­ar ke­las.

Sa­tu pe­ne­li­ti­an la­gi di­la­ku­kan Prog­ram Stu­di Aga­ma dan Lin­tas Bu­da­ya UGM, 2007. Di si­ni di­te­mu­kan mes­ki­pun peng­ajar­an aga­ma dan ling­kung­an ke­aga­ma­an di se­ko­lah cen­de­rung eks­klu­sif, nya­ta­nya si­kap sis­wa sen­di­ri tak se­la­lu eks­klu­sif. Sis­wa ju­ga be­la­jar da­ri ke­lu­ar­ga, me­dia dan ling­kung­an tem­pat ting­gal­nya. Peng­alam­an hi­dup se­ha­ri-ha­ri di lu­ar se­ko­lah yang ra­mah dan ter­bu­ka pa­da per­be­da­an tak ja­rang le­bih meng­akar ku­at pa­da ka­um mu­da, di­ban­ding pan­dang­an eks­klu­sif yang di­da­pat da­ri se­ko­lah.

Ke­lu­ar­ga & ma­sya­ra­kat

Pe­ne­li­ti­an yang di­se­but ter­akhir ten­tu ti­dak ser­ta-mer­ta me­men­tah­kan dua ri­set yang di­se­but se­be­lum­nya. Pe­ma­ham­an ter­ha­dap ke­ti­ga ka­ji­an ter­se­but se­ca­ra utuh ma­lah mem­ban­tu ki­ta me­ma­hami re­a­li­tas ka­um mu­da de­ngan le­bih ba­ik.

Ke­kha­wa­tir­an bah­wa ka­um mu­da te­lah ter­ja­tuh pa­da eks­klu­si­vis­me me­ru­pa­kan si­kap ke­ta­kut­an yang ber­le­bih­an. Mes­ki­pun de­mi­ki­an, da­ri fak­ta ke­ter­li­bat­an be­be­ra­pa re­ma­ja da­lam ak­si te­ro­ris­me dan ke­ke­ras­an yang lain men­ja­di peng­ingat yang se­la­yak­nya mu­lai di­per­ha­ti­kan bah­wa ra­sa peng­har­ga­an pa­da per­be­da­an tak se­la­lu di­se­mai da­lam pen­di­dik­an aga­ma di ke­las dan ling­kung­an ke­aga­ma­an di se­ba­gi­an se­ko­lah.

Sa­yang­nya Pen­di­dik­an Ke­war­ga­ne­ga­ra­an (PKn), Pen­di­dik­an Ke­se­ni­an dan Pen­di­dik­an Ba­ha­sa ju­ga ti­dak di­eks­plo­ra­si de­ngan ba­ik. Pa­da­hal PKn se­ha­rus­nya bi­sa “me­nye­le­sai­kan” ke­te­gang­an yang di­ha­sil­kan oleh mo­del pen­di­dik­an aga­ma se­ek­sklu­sif apa­pun. Sis­wa ber­hak me­mi­liki pe­ma­ham­an aga­ma eks­klu­sif ta­pi PR-nya da­lam PKn ada­lah ti­ap sis­wa (war­ga ne­ga­ra) mes­ki me­ma­hami prin­sip ke­se­ta­ra­an di de­pan hu­kum dan pen­ting­nya si­kap an­ti­dis­kri­mi­na­si.

Men­trans­for­ma­si­kan ni­lai-ni­lai ke­aga­ma­an yang ter­bu­ka da­lam ke­gi­at­an-ke­gi­at­an eks­tra ku­ri­ku­ler se­ko­lah ada­lah pen­ting. Ta­pi, tak ka­lah pen­ting­nya meng­ajak pa­ra ak­ti­vis ke­aga­ma­an meng­alami ke­ber­sa­ma­an da­lam ke­ra­gam­an en­tah de­ngan la­bel ke­gi­at­an apa­pun.

Se­lain itu usa­ha me­ma­su­ki bu­da­ya po­pu­ler ru­pa­nya ki­ni te­lah di­co­ba se­ba­gai me­di­um dia­log se­per­ti da­lam bi­dang cre­a­ti­ve wri­ting dan pem­bu­at­an film do­ku­men­ter, me­leng­ka­pi me­to­de li­ve in dan yo­uth camp yang se­la­ma ini te­lah la­zim.

Pa­ra ak­ti­vis dan pe­mer­ha­ti dia­log ki­ni di­tun­tut meng­eks­plo­ra­si le­bih ja­uh ja­lan-ja­lan ba­ru dia­log, tak ter­ke­cua­li dia­log ba­gi ka­um mu­da. Se­jauh pe­nge­ta­hu­an pe­nu­lis ter­ha­dap usa­ha-usa­ha di bi­dang ini, ba­ha­sa ”meng­alami” (to ex­pe­ri­en­ce) ada­lah le­bih ku­at, mem­be­kas dan ter­ta­nam ba­gi ka­um mu­da di­ban­ding ba­ha­sa “me­nge­ta­hui” (to know).

Me­nge­nai te­ma dia­log, se­ba­gai agen yang kre­a­tif ka­um mu­da se­pa­tut­nya di­be­ri ru­ang se­lu­as-lu­as­nya un­tuk ber­kre­a­si. Ba­ha­sa ”per­be­da­an” ba­gi ka­um mu­da mung­kin bi­sa sa­ja di­ter­je­mah­kan ti­dak per­be­da­an aga­ma se­ma­ta ta­pi aga­ma da­lam per­be­da­an ke­las so­si­al, eko­no­mi, orien­ta­si seks, li­ve sty­le atau yang lain.

Se­lain di se­ko­lah, ling­kung­an ke­lu­ar­ga dan ma­sya­ra­kat ti­dak bi­sa le­pas ta­ngan. Se­bab se­ba­gi­an be­sar wak­tu ka­um mu­da di­ha­bis­kan bu­kan di se­ko­lah ta­pi di ru­mah ber­sa­ma ke­lu­ar­ga dan ma­sya­ra­kat. Se­ha­rus­nya di si­ni ju­ga di­pa­sang se­ma­cam alarm so­si­al. Se­hing­ga, se­jak awal bi­sa di­de­tek­si ji­ka yang ber­sang­kut­an me­nun­juk­kan tan­da-tan­da yang gan­jil.

Pe­na­ngan­an te­ro­ris­me bu­kan ha­nya tu­gas Den­sus 88 ta­pi ki­ta se­mua. Ka­lau be­nar se­ma­kin ba­nyak ka­um mu­da ter­ta­rik pa­da te­ro­ris­me, ini me­ru­pa­kan aba-aba bah­wa ki­ta ha­rus se­ma­kin pe­du­li. - Oleh : Su­ha­di Cho­lil Do­sen Prog­ram Stu­di Aga­ma dan Lin­tas Bu­da­ya UGM

Kamis, 14 Oktober 2010

peran dan fungsi mahasiswa

Mahasiswa Masadepan.......!
Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik dan ilmiah yang berada di masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya. Mahasiswa juga belum tercekcoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme. Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser makna kebenaran tersebut.Berdasarkan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa, tidak sepantasnyalah bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Oleh karena itu perlu dirumuskan perihal peran, fungsi, dan posisi mahasiswa untuk menentukan arah perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut

Apa sih peran mahasiswa itu? apa demo aja?
bagi hemat kami; pertama Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.
Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam Al-Maidah:54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai, lemah lembut kepada sesama manusia. Dalam al hikmah ' Kun hadiisan hasanan liman wa'a =jadilah pioner dan bunga bunga harum untuk generasi berikutnya
Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa. (mari kita buka sejarah; dengan bangak membaca di perpustakaan dan diskusi)
kemudian cara kita untuk menjadi yang tangguh dengan menambah pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya untuk tidak terulang pada generasi yang mendatang
kedua, Mahasiswa sebagai penjaga Nilai (Guardian of Value). Dalam hal ini Sebagai insan akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Kita harus memulainya dari hal tersebut karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa diwajibkan menjaganya. Nilai yang harus dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.
Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan ke-eksisan Tuhan, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat.
Pemikiran Guardian of Value yang berkembang selama ini hanyalah sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumya, atau menjaga nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa Guardian of Value adalah penyampai, dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebut diperoleh berdasarkan watak ilmu yang dimiliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebanaran ilmiah.
Ketiga, Mahasiswa sebagai Agent of Change (sebagai agen perubahan) Menurut saya kondisi bangsa saat ini jauh sekali dari kondisi ideal, dimana banyak sekali penyakit-penyakit masyarakat yang menghinggapi hati bangsa ini, mulai dari pejabat-pejabat atas hingga bawah, dan tentunya tertular pula kepada banyak rakyatnya. Sudah seharusnyalah kita melakukan terhadap hal ini. Lalu alasan selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan adalah karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi walaupun kita ‘diam’. Bila kita diam secara tidak sadar kita telah berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun tentunya perubahan yang terjadi akan berbeda dengan ideologi yang kita anut dan kita anggap benar.
Perubahan merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt. Berdasarkan Qur’an surat Ar-Ra’d : 11, dimana dijelaskan bahwa suatu kaum harus mau berubah bila mereka menginginkan sesuatu keadaan yang lebih baik. Lalu berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan orang yang hari ini tidak lebih baik dari kemarin adalah orang yang merugi. Oleh karena itu betapa pentingnya arti sebuah perubahan yang harus kita lakukan.
Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang “eksklusif”, hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang status mahasiswa, dan dari jumlah itu bisa dihitung pula berapa persen lagi yang mau mengkaji tentang peran-peran mahasiswa di bangsa dan negaranya ini. Mahasiswa-mahasiswa yang telah sadar tersebut sudah seharusnya tidak lepas tangan begitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bangsa ini melakukan perubahan ke arah yang salah. Merekalah yang seharusnya melakukan perubahan-perubahan tersebut.
Perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat sangat dipengaruhi oleh hal-hal bersifat materialistik seperti teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat feodal, mesin industri akan menciptakan mayarakat kapitalis, internet akan menciptakan menciptakan masyarakat yang informatif, dan lain sebagainya. Pandangan selanjutnya menyatakan bahwa ideologi atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Sebagai mahasiswa nampaknya kita harus bisa mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya perubahan yang diharapkan. Itu semua karena kita berpotensi lebih untuk mewujudkan hal-hal tersebut.
Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa pula mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan.

Selanjutnya fungsi mahasiswa yang tangguh itu; bagaimana sih?
'Mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan, teriakan mahasiswa membelah langit,....’ dan banyak lagi;
jadi fungsi mahasiswa yang ditulis oleh Bung Hatta, Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M. Hatta (Bapak Proklamator) yaitu membentuk manusisa susila dan demokrat yang memilikmi dan cakap; Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, serta Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat.
Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut, dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis, yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu : memiliki kepekaan dan kritis terhapa masalah disekitarnya, dan selalu mengembangkan dirinya.
Insan akademis harus memiliki kepekaan dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu, yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.Maka, Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Dalam hal insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu, ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai penjaga nilai, dimana mahasiswa harus mencari nilai-nilai kebenaran itu sendiri, kemudian meneruskannya kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut.
Jadi yang jangan dilupakan adalah kampus kedua mahasiswa adalah Organisasi/kampus otak. jadi bila dosen tidak masuk dari pada bengong, maka buatlah kelompok diskusi untuk memeperkaya ide dan gagasan.