Assignment; watch the movies in trans TV (box office movies)or listen news every day in BBC LOndon/The kangguru english Magazines every night/day. write down the movies/listen the audio and make a report briefly...thanks
------------------------------------------------------------
Listening handout/students work book.
prepare your flash disk and copies-fee
Senin, 08 Agustus 2011
Minggu, 10 April 2011
Gorontalo Palace
The international Confrence on education management, administration and leadership at Gorontalo April,8-10th 2011
The International Conference of educational Management, administration, and Leadership (ICEMAL) merupakan forum ilmiah dalam meningkatkan kerjasama perguruan tinggi se-ASEAN, terutama dalam bidang manajemen pendidikan.
ICEMAIL dicetuskan dan didirikan di Bandung di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2008 dan dimantapkan secara paripurna pada tahun 2010 di Yogyakarta, dan pertemuan ketiga di Universitas Negeri Gorontalo. Kehadiran ICEMAL sebagai forum internasional telah meningkatkan kerjasama para pakar ilmu administrasi, manajemen pendidikan dan kepemimpinan baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini tampak dari partisipasi berbagai perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri dalam kegiatan ICEMAL.Konfrensi ICEMAL tahun 2011 lebih terfokus pada penegasan jatidiri ICEMAL sebagai forum ilmiah internasional yang professional.
Selanjutnya, Kegiatan seminar didasarkan pada adanya keinginan semua negara untuk meningkatkan mutu (kualitas) pendidikannya. Diyakini bahwa manajemen pendidikan merupakan ‘entry point’ pada peningkatan mutu pendidikannya. Oleh karena itu dalam seminar dan konfrensi ini diangkat tema mengaktualisasikan teori dan konsep manajemen pendidikan, administrasi, dan kepemimpinan, untuk peningkatan kualitas dan mutu pendidikan
Visiting the international boarding school MA Insan Cendikia Gorontalo with MAlaya University lecturer;Prof.Dato' Hussein Hj Ahmad, Dr Zuraidah Binti Ahmad, & Suria Binti Baba,Ph.D
The end of the Confrence
dinner party;
Obsesi sang Doktor,menuju Professor!!
(the inspirate man who heritage The sasak spirite on struggle in science and education)
The international Confrence on education management, administration and leadership at Gorontalo April,8-10th 2011
The International Conference of educational Management, administration, and Leadership (ICEMAL) merupakan forum ilmiah dalam meningkatkan kerjasama perguruan tinggi se-ASEAN, terutama dalam bidang manajemen pendidikan.
ICEMAIL dicetuskan dan didirikan di Bandung di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2008 dan dimantapkan secara paripurna pada tahun 2010 di Yogyakarta, dan pertemuan ketiga di Universitas Negeri Gorontalo. Kehadiran ICEMAL sebagai forum internasional telah meningkatkan kerjasama para pakar ilmu administrasi, manajemen pendidikan dan kepemimpinan baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini tampak dari partisipasi berbagai perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri dalam kegiatan ICEMAL.Konfrensi ICEMAL tahun 2011 lebih terfokus pada penegasan jatidiri ICEMAL sebagai forum ilmiah internasional yang professional.
Selanjutnya, Kegiatan seminar didasarkan pada adanya keinginan semua negara untuk meningkatkan mutu (kualitas) pendidikannya. Diyakini bahwa manajemen pendidikan merupakan ‘entry point’ pada peningkatan mutu pendidikannya. Oleh karena itu dalam seminar dan konfrensi ini diangkat tema mengaktualisasikan teori dan konsep manajemen pendidikan, administrasi, dan kepemimpinan, untuk peningkatan kualitas dan mutu pendidikan
Visiting the international boarding school MA Insan Cendikia Gorontalo with MAlaya University lecturer;Prof.Dato' Hussein Hj Ahmad, Dr Zuraidah Binti Ahmad, & Suria Binti Baba,Ph.D
The end of the Confrence
dinner party;
Obsesi sang Doktor,menuju Professor!!
(the inspirate man who heritage The sasak spirite on struggle in science and education)
Rabu, 23 Februari 2011
Rabu, 26 Januari 2011
Terorisme & kaum muda
Menarik menyimak headline SOLOPOS, (26/1) tentang penangkapan delapan orang yang diduga terlibat terorisme oleh Densus 88.
Tujuh di antara mereka masih belia, berumur antara 18-21 tahun, sebagian masih siswa.
Sepatutnya kita tidak tergesa-gesa mendakwa mereka sebagai teroris sebelum pengadilan menetapkan demikian. Namun jika benar, penting bagi kita untuk merefleksikan secara mendalam mengapa hal itu bisa terjadi.
Sebenarnya keterlibatan remaja dalam terorisme di Indonesia bukan barang baru. Yang terlibat bom Ritz Carlton pertengahan 2009 lalu berusia 18 tahun. Di sisi lain tak bisa dipungkiri tren masuknya pikiran-pikiran intoleran pada kaum muda mulai menggejala. Hal itu tak jarang dimanfaatkan oleh para jaringan terorisme.
Sekolah dan intoleransi
Di antara pertanyaan mendasar yang layak kita ajukan adalah apakah kaum muda selama ini terlupakan dalam agenda kampanye anti intoleransi? Apakah kaum muda menerima pelajaran-pelajaran agama yang cenderung bercorak intoleran terhadap perbedaan?
Memang ide tentang intoleransi tidak berkaitan langsung dengan ide terorisme atau kekerasan yang lain. Meskipun demikian, sulit dibayangkan seseorang dengan pikiran yang terbuka, toleran dan antikekerasan terlibat dalam terorisme.
Beberapa riset menunjukkan kampanye intoleransi telah menyasar kaum muda. Sebagian pegiat dialog dan pemerhati pendidikan sebenarnya mulai menyadari hal ini.
Penelitian Farha Ciciek (2008) dari Rahima Jakarta menunjukkan saat ini di sebagian sekolah terjadi penguatan dan transformasi pandangan-pandangan intoleran dari luar sekolah ke siswa melalui kegiatan-kegiatan keagamaan di bawah payung kegiatan ekstrakurikuler.
Sebelumnya, sebuah penelitian tentang pendidikan agama yang diterbitkan Interfidei Yogyakarta tahun 2007 juga menyinyalir rendahnya penanaman sikap toleransi dalam kurikulum pendidikan agama dan pengajaran di sekolah-sekolah.
Menariknya, penelitian Interfidei tersebut juga menemukan adanya upaya keras dari sebagian kecil guru agama yang mencoba mengkreasi pendidikan agama untuk lebih terbuka. Apa artinya? Meskipun masih sedikit, kegelisahan atas model pendidikan agama yang ada saat ini juga muncul di kalangan pendidik.
Pentingnya penelitian Ciciek terletak pada upayanya melengkapi penelitian Interfidei sebelumnya bahwa sikap intoleransi tidak saja bisa muncul dari kurikulum dan pengajaran agama di kelas tapi juga kegiatan-kegiatan di luar kelas.
Satu penelitian lagi dilakukan Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM, 2007. Di sini ditemukan meskipun pengajaran agama dan lingkungan keagamaan di sekolah cenderung eksklusif, nyatanya sikap siswa sendiri tak selalu eksklusif. Siswa juga belajar dari keluarga, media dan lingkungan tempat tinggalnya. Pengalaman hidup sehari-hari di luar sekolah yang ramah dan terbuka pada perbedaan tak jarang lebih mengakar kuat pada kaum muda, dibanding pandangan eksklusif yang didapat dari sekolah.
Keluarga & masyarakat
Penelitian yang disebut terakhir tentu tidak serta-merta mementahkan dua riset yang disebut sebelumnya. Pemahaman terhadap ketiga kajian tersebut secara utuh malah membantu kita memahami realitas kaum muda dengan lebih baik.
Kekhawatiran bahwa kaum muda telah terjatuh pada eksklusivisme merupakan sikap ketakutan yang berlebihan. Meskipun demikian, dari fakta keterlibatan beberapa remaja dalam aksi terorisme dan kekerasan yang lain menjadi pengingat yang selayaknya mulai diperhatikan bahwa rasa penghargaan pada perbedaan tak selalu disemai dalam pendidikan agama di kelas dan lingkungan keagamaan di sebagian sekolah.
Sayangnya Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Kesenian dan Pendidikan Bahasa juga tidak dieksplorasi dengan baik. Padahal PKn seharusnya bisa “menyelesaikan” ketegangan yang dihasilkan oleh model pendidikan agama seeksklusif apapun. Siswa berhak memiliki pemahaman agama eksklusif tapi PR-nya dalam PKn adalah tiap siswa (warga negara) meski memahami prinsip kesetaraan di depan hukum dan pentingnya sikap antidiskriminasi.
Mentransformasikan nilai-nilai keagamaan yang terbuka dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler sekolah adalah penting. Tapi, tak kalah pentingnya mengajak para aktivis keagamaan mengalami kebersamaan dalam keragaman entah dengan label kegiatan apapun.
Selain itu usaha memasuki budaya populer rupanya kini telah dicoba sebagai medium dialog seperti dalam bidang creative writing dan pembuatan film dokumenter, melengkapi metode live in dan youth camp yang selama ini telah lazim.
Para aktivis dan pemerhati dialog kini dituntut mengeksplorasi lebih jauh jalan-jalan baru dialog, tak terkecuali dialog bagi kaum muda. Sejauh pengetahuan penulis terhadap usaha-usaha di bidang ini, bahasa ”mengalami” (to experience) adalah lebih kuat, membekas dan tertanam bagi kaum muda dibanding bahasa “mengetahui” (to know).
Mengenai tema dialog, sebagai agen yang kreatif kaum muda sepatutnya diberi ruang seluas-luasnya untuk berkreasi. Bahasa ”perbedaan” bagi kaum muda mungkin bisa saja diterjemahkan tidak perbedaan agama semata tapi agama dalam perbedaan kelas sosial, ekonomi, orientasi seks, live style atau yang lain.
Selain di sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat tidak bisa lepas tangan. Sebab sebagian besar waktu kaum muda dihabiskan bukan di sekolah tapi di rumah bersama keluarga dan masyarakat. Seharusnya di sini juga dipasang semacam alarm sosial. Sehingga, sejak awal bisa dideteksi jika yang bersangkutan menunjukkan tanda-tanda yang ganjil.
Penanganan terorisme bukan hanya tugas Densus 88 tapi kita semua. Kalau benar semakin banyak kaum muda tertarik pada terorisme, ini merupakan aba-aba bahwa kita harus semakin peduli. - Oleh : Suhadi Cholil Dosen Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM
Menarik menyimak headline SOLOPOS, (26/1) tentang penangkapan delapan orang yang diduga terlibat terorisme oleh Densus 88.
Tujuh di antara mereka masih belia, berumur antara 18-21 tahun, sebagian masih siswa.
Sepatutnya kita tidak tergesa-gesa mendakwa mereka sebagai teroris sebelum pengadilan menetapkan demikian. Namun jika benar, penting bagi kita untuk merefleksikan secara mendalam mengapa hal itu bisa terjadi.
Sebenarnya keterlibatan remaja dalam terorisme di Indonesia bukan barang baru. Yang terlibat bom Ritz Carlton pertengahan 2009 lalu berusia 18 tahun. Di sisi lain tak bisa dipungkiri tren masuknya pikiran-pikiran intoleran pada kaum muda mulai menggejala. Hal itu tak jarang dimanfaatkan oleh para jaringan terorisme.
Sekolah dan intoleransi
Di antara pertanyaan mendasar yang layak kita ajukan adalah apakah kaum muda selama ini terlupakan dalam agenda kampanye anti intoleransi? Apakah kaum muda menerima pelajaran-pelajaran agama yang cenderung bercorak intoleran terhadap perbedaan?
Memang ide tentang intoleransi tidak berkaitan langsung dengan ide terorisme atau kekerasan yang lain. Meskipun demikian, sulit dibayangkan seseorang dengan pikiran yang terbuka, toleran dan antikekerasan terlibat dalam terorisme.
Beberapa riset menunjukkan kampanye intoleransi telah menyasar kaum muda. Sebagian pegiat dialog dan pemerhati pendidikan sebenarnya mulai menyadari hal ini.
Penelitian Farha Ciciek (2008) dari Rahima Jakarta menunjukkan saat ini di sebagian sekolah terjadi penguatan dan transformasi pandangan-pandangan intoleran dari luar sekolah ke siswa melalui kegiatan-kegiatan keagamaan di bawah payung kegiatan ekstrakurikuler.
Sebelumnya, sebuah penelitian tentang pendidikan agama yang diterbitkan Interfidei Yogyakarta tahun 2007 juga menyinyalir rendahnya penanaman sikap toleransi dalam kurikulum pendidikan agama dan pengajaran di sekolah-sekolah.
Menariknya, penelitian Interfidei tersebut juga menemukan adanya upaya keras dari sebagian kecil guru agama yang mencoba mengkreasi pendidikan agama untuk lebih terbuka. Apa artinya? Meskipun masih sedikit, kegelisahan atas model pendidikan agama yang ada saat ini juga muncul di kalangan pendidik.
Pentingnya penelitian Ciciek terletak pada upayanya melengkapi penelitian Interfidei sebelumnya bahwa sikap intoleransi tidak saja bisa muncul dari kurikulum dan pengajaran agama di kelas tapi juga kegiatan-kegiatan di luar kelas.
Satu penelitian lagi dilakukan Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM, 2007. Di sini ditemukan meskipun pengajaran agama dan lingkungan keagamaan di sekolah cenderung eksklusif, nyatanya sikap siswa sendiri tak selalu eksklusif. Siswa juga belajar dari keluarga, media dan lingkungan tempat tinggalnya. Pengalaman hidup sehari-hari di luar sekolah yang ramah dan terbuka pada perbedaan tak jarang lebih mengakar kuat pada kaum muda, dibanding pandangan eksklusif yang didapat dari sekolah.
Keluarga & masyarakat
Penelitian yang disebut terakhir tentu tidak serta-merta mementahkan dua riset yang disebut sebelumnya. Pemahaman terhadap ketiga kajian tersebut secara utuh malah membantu kita memahami realitas kaum muda dengan lebih baik.
Kekhawatiran bahwa kaum muda telah terjatuh pada eksklusivisme merupakan sikap ketakutan yang berlebihan. Meskipun demikian, dari fakta keterlibatan beberapa remaja dalam aksi terorisme dan kekerasan yang lain menjadi pengingat yang selayaknya mulai diperhatikan bahwa rasa penghargaan pada perbedaan tak selalu disemai dalam pendidikan agama di kelas dan lingkungan keagamaan di sebagian sekolah.
Sayangnya Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Pendidikan Kesenian dan Pendidikan Bahasa juga tidak dieksplorasi dengan baik. Padahal PKn seharusnya bisa “menyelesaikan” ketegangan yang dihasilkan oleh model pendidikan agama seeksklusif apapun. Siswa berhak memiliki pemahaman agama eksklusif tapi PR-nya dalam PKn adalah tiap siswa (warga negara) meski memahami prinsip kesetaraan di depan hukum dan pentingnya sikap antidiskriminasi.
Mentransformasikan nilai-nilai keagamaan yang terbuka dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler sekolah adalah penting. Tapi, tak kalah pentingnya mengajak para aktivis keagamaan mengalami kebersamaan dalam keragaman entah dengan label kegiatan apapun.
Selain itu usaha memasuki budaya populer rupanya kini telah dicoba sebagai medium dialog seperti dalam bidang creative writing dan pembuatan film dokumenter, melengkapi metode live in dan youth camp yang selama ini telah lazim.
Para aktivis dan pemerhati dialog kini dituntut mengeksplorasi lebih jauh jalan-jalan baru dialog, tak terkecuali dialog bagi kaum muda. Sejauh pengetahuan penulis terhadap usaha-usaha di bidang ini, bahasa ”mengalami” (to experience) adalah lebih kuat, membekas dan tertanam bagi kaum muda dibanding bahasa “mengetahui” (to know).
Mengenai tema dialog, sebagai agen yang kreatif kaum muda sepatutnya diberi ruang seluas-luasnya untuk berkreasi. Bahasa ”perbedaan” bagi kaum muda mungkin bisa saja diterjemahkan tidak perbedaan agama semata tapi agama dalam perbedaan kelas sosial, ekonomi, orientasi seks, live style atau yang lain.
Selain di sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat tidak bisa lepas tangan. Sebab sebagian besar waktu kaum muda dihabiskan bukan di sekolah tapi di rumah bersama keluarga dan masyarakat. Seharusnya di sini juga dipasang semacam alarm sosial. Sehingga, sejak awal bisa dideteksi jika yang bersangkutan menunjukkan tanda-tanda yang ganjil.
Penanganan terorisme bukan hanya tugas Densus 88 tapi kita semua. Kalau benar semakin banyak kaum muda tertarik pada terorisme, ini merupakan aba-aba bahwa kita harus semakin peduli. - Oleh : Suhadi Cholil Dosen Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM
Kamis, 14 Oktober 2010
peran dan fungsi mahasiswa
Mahasiswa Masadepan.......!
Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik dan ilmiah yang berada di masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya. Mahasiswa juga belum tercekcoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme. Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser makna kebenaran tersebut.Berdasarkan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa, tidak sepantasnyalah bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Oleh karena itu perlu dirumuskan perihal peran, fungsi, dan posisi mahasiswa untuk menentukan arah perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut
Apa sih peran mahasiswa itu? apa demo aja?
bagi hemat kami; pertama Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.
Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam Al-Maidah:54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai, lemah lembut kepada sesama manusia. Dalam al hikmah ' Kun hadiisan hasanan liman wa'a =jadilah pioner dan bunga bunga harum untuk generasi berikutnya
Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa. (mari kita buka sejarah; dengan bangak membaca di perpustakaan dan diskusi)
kemudian cara kita untuk menjadi yang tangguh dengan menambah pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya untuk tidak terulang pada generasi yang mendatang
kedua, Mahasiswa sebagai penjaga Nilai (Guardian of Value). Dalam hal ini Sebagai insan akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Kita harus memulainya dari hal tersebut karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa diwajibkan menjaganya. Nilai yang harus dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.
Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan ke-eksisan Tuhan, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat.
Pemikiran Guardian of Value yang berkembang selama ini hanyalah sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumya, atau menjaga nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa Guardian of Value adalah penyampai, dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebut diperoleh berdasarkan watak ilmu yang dimiliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebanaran ilmiah.
Ketiga, Mahasiswa sebagai Agent of Change (sebagai agen perubahan) Menurut saya kondisi bangsa saat ini jauh sekali dari kondisi ideal, dimana banyak sekali penyakit-penyakit masyarakat yang menghinggapi hati bangsa ini, mulai dari pejabat-pejabat atas hingga bawah, dan tentunya tertular pula kepada banyak rakyatnya. Sudah seharusnyalah kita melakukan terhadap hal ini. Lalu alasan selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan adalah karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi walaupun kita ‘diam’. Bila kita diam secara tidak sadar kita telah berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun tentunya perubahan yang terjadi akan berbeda dengan ideologi yang kita anut dan kita anggap benar.
Perubahan merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt. Berdasarkan Qur’an surat Ar-Ra’d : 11, dimana dijelaskan bahwa suatu kaum harus mau berubah bila mereka menginginkan sesuatu keadaan yang lebih baik. Lalu berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan orang yang hari ini tidak lebih baik dari kemarin adalah orang yang merugi. Oleh karena itu betapa pentingnya arti sebuah perubahan yang harus kita lakukan.
Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang “eksklusif”, hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang status mahasiswa, dan dari jumlah itu bisa dihitung pula berapa persen lagi yang mau mengkaji tentang peran-peran mahasiswa di bangsa dan negaranya ini. Mahasiswa-mahasiswa yang telah sadar tersebut sudah seharusnya tidak lepas tangan begitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bangsa ini melakukan perubahan ke arah yang salah. Merekalah yang seharusnya melakukan perubahan-perubahan tersebut.
Perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat sangat dipengaruhi oleh hal-hal bersifat materialistik seperti teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat feodal, mesin industri akan menciptakan mayarakat kapitalis, internet akan menciptakan menciptakan masyarakat yang informatif, dan lain sebagainya. Pandangan selanjutnya menyatakan bahwa ideologi atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Sebagai mahasiswa nampaknya kita harus bisa mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya perubahan yang diharapkan. Itu semua karena kita berpotensi lebih untuk mewujudkan hal-hal tersebut.
Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa pula mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan.
Selanjutnya fungsi mahasiswa yang tangguh itu; bagaimana sih?
'Mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan, teriakan mahasiswa membelah langit,....’ dan banyak lagi;
jadi fungsi mahasiswa yang ditulis oleh Bung Hatta, Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M. Hatta (Bapak Proklamator) yaitu membentuk manusisa susila dan demokrat yang memilikmi dan cakap; Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, serta Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat.
Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut, dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis, yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu : memiliki kepekaan dan kritis terhapa masalah disekitarnya, dan selalu mengembangkan dirinya.
Insan akademis harus memiliki kepekaan dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu, yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.Maka, Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Dalam hal insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu, ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai penjaga nilai, dimana mahasiswa harus mencari nilai-nilai kebenaran itu sendiri, kemudian meneruskannya kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut.
Jadi yang jangan dilupakan adalah kampus kedua mahasiswa adalah Organisasi/kampus otak. jadi bila dosen tidak masuk dari pada bengong, maka buatlah kelompok diskusi untuk memeperkaya ide dan gagasan.
Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik dan ilmiah yang berada di masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya. Mahasiswa juga belum tercekcoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dsb. Sehingga mahasiswa dapat dikatakan (seharusnya) memiliki idealisme. Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser makna kebenaran tersebut.Berdasarkan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa, tidak sepantasnyalah bila mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negaranya. Mahasiswa itu sudah bukan siswa yang tugasnya hanya belajar, bukan pula rakyat, bukan pula pemerintah. Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Oleh karena itu perlu dirumuskan perihal peran, fungsi, dan posisi mahasiswa untuk menentukan arah perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut
Apa sih peran mahasiswa itu? apa demo aja?
bagi hemat kami; pertama Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.
Dalam konsep Islam sendiri, peran pemuda sebagai generasi pengganti tersirat dalam Al-Maidah:54, yaitu pemuda sebagai pengganti generasi yang sudah rusak dan memiliki karakter mencintai dan dicintai, lemah lembut kepada sesama manusia. Dalam al hikmah ' Kun hadiisan hasanan liman wa'a =jadilah pioner dan bunga bunga harum untuk generasi berikutnya
Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme, hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubah kondisi bangsa. (mari kita buka sejarah; dengan bangak membaca di perpustakaan dan diskusi)
kemudian cara kita untuk menjadi yang tangguh dengan menambah pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan, dan tak lupa untuk mempelajari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di generasi-generasi sebelumnya untuk tidak terulang pada generasi yang mendatang
kedua, Mahasiswa sebagai penjaga Nilai (Guardian of Value). Dalam hal ini Sebagai insan akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Kita harus memulainya dari hal tersebut karena bila kita renungkan kembali sifat nilai yang harus dijaga tersebut haruslah mutlak kebenarannya sehingga mahasiswa diwajibkan menjaganya. Nilai yang harus dijaga adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya. Nilai itu jelaslah bukan hasil dari pragmatisme, nilai itu haruslah bersumber dari suatu dzat yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.
Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan ke-eksisan Tuhan, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat.
Pemikiran Guardian of Value yang berkembang selama ini hanyalah sebagai penjaga nilai-nilai yang sudah ada sebelumya, atau menjaga nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, kesigapan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu saya berpendapat bahwa Guardian of Value adalah penyampai, dan penjaga nilai-nilai kebenaran mutlak dimana nilai-nilai tersebut diperoleh berdasarkan watak ilmu yang dimiliki mahasiswa itu sendiri. Watak ilmu sendiri adalah selalu mencari kebanaran ilmiah.
Ketiga, Mahasiswa sebagai Agent of Change (sebagai agen perubahan) Menurut saya kondisi bangsa saat ini jauh sekali dari kondisi ideal, dimana banyak sekali penyakit-penyakit masyarakat yang menghinggapi hati bangsa ini, mulai dari pejabat-pejabat atas hingga bawah, dan tentunya tertular pula kepada banyak rakyatnya. Sudah seharusnyalah kita melakukan terhadap hal ini. Lalu alasan selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan adalah karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi walaupun kita ‘diam’. Bila kita diam secara tidak sadar kita telah berkontribusi dalam melakukan perubahan, namun tentunya perubahan yang terjadi akan berbeda dengan ideologi yang kita anut dan kita anggap benar.
Perubahan merupakan sebuah perintah yang diberikan oleh Allah swt. Berdasarkan Qur’an surat Ar-Ra’d : 11, dimana dijelaskan bahwa suatu kaum harus mau berubah bila mereka menginginkan sesuatu keadaan yang lebih baik. Lalu berdasarkan hadis yang menyebutkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan orang yang hari ini tidak lebih baik dari kemarin adalah orang yang merugi. Oleh karena itu betapa pentingnya arti sebuah perubahan yang harus kita lakukan.
Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan dikarenakan mahasiswa merupakan kaum yang “eksklusif”, hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang status mahasiswa, dan dari jumlah itu bisa dihitung pula berapa persen lagi yang mau mengkaji tentang peran-peran mahasiswa di bangsa dan negaranya ini. Mahasiswa-mahasiswa yang telah sadar tersebut sudah seharusnya tidak lepas tangan begitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bangsa ini melakukan perubahan ke arah yang salah. Merekalah yang seharusnya melakukan perubahan-perubahan tersebut.
Perubahan itu sendiri sebenarnya dapat dilihat dari dua pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa tatanan kehidupan bermasyarakat sangat dipengaruhi oleh hal-hal bersifat materialistik seperti teknologi, misalnya kincir angin akan menciptakan masyarakat feodal, mesin industri akan menciptakan mayarakat kapitalis, internet akan menciptakan menciptakan masyarakat yang informatif, dan lain sebagainya. Pandangan selanjutnya menyatakan bahwa ideologi atau nilai sebagai faktor yang mempengaruhi perubahan. Sebagai mahasiswa nampaknya kita harus bisa mengakomodasi kedua pandangan tersebut demi terjadinya perubahan yang diharapkan. Itu semua karena kita berpotensi lebih untuk mewujudkan hal-hal tersebut.
Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa pula mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan.
Selanjutnya fungsi mahasiswa yang tangguh itu; bagaimana sih?
'Mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan, teriakan mahasiswa membelah langit,....’ dan banyak lagi;
jadi fungsi mahasiswa yang ditulis oleh Bung Hatta, Berdasarkan tugas perguruan tinggi yang diungkapkan M. Hatta (Bapak Proklamator) yaitu membentuk manusisa susila dan demokrat yang memilikmi dan cakap; Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, serta Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat.
Berdasarkan pemikiran M.Hatta tersebut, dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah membentuk insan akademis, yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi mahasiswa itu sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu : memiliki kepekaan dan kritis terhapa masalah disekitarnya, dan selalu mengembangkan dirinya.
Insan akademis harus memiliki kepekaan dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu, yaitu selalu mencari pembenaran-pembenaran ilmiah. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya.Maka, Insan akademis harus selalu mengembangkan dirinya sehingga mereka bisa menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan. Dalam hal insan akademis sebagai orang yang selalu mengikuti watak ilmu, ini juga berhubungan dengan peran mahasiswa sebagai penjaga nilai, dimana mahasiswa harus mencari nilai-nilai kebenaran itu sendiri, kemudian meneruskannya kepada masyarakat, dan yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran tersebut.
Jadi yang jangan dilupakan adalah kampus kedua mahasiswa adalah Organisasi/kampus otak. jadi bila dosen tidak masuk dari pada bengong, maka buatlah kelompok diskusi untuk memeperkaya ide dan gagasan.
Rabu, 13 Oktober 2010
Selasa, 21 September 2010
New Student of FPBS 2010
---------------------------------------------------------------------
kuliah merupakan suatu aktivititangas akademik yang merupakan salah satu tanggung jawab kalau kita mau berubah dari keterpurukan,...kata seorang bijak. di kampus pendidikan terbesar di NTB ini ada sosok mahasiswa yang kesehariannya tekun menuntut ilmu, gadis kelahiran Renteng Praya di Bumi Tatas Tuhu Trasna ini merupakan salah satu mahasiswi yang kuliah dengan semangat juang yang tinggi,...'pagah praye' yang selama ini dia kenal diaktualisasikan dalam semangat belajar..belajar dan belajar terus!
---------------------------------------------------------------------
kuliah merupakan suatu aktivititangas akademik yang merupakan salah satu tanggung jawab kalau kita mau berubah dari keterpurukan,...kata seorang bijak. di kampus pendidikan terbesar di NTB ini ada sosok mahasiswa yang kesehariannya tekun menuntut ilmu, gadis kelahiran Renteng Praya di Bumi Tatas Tuhu Trasna ini merupakan salah satu mahasiswi yang kuliah dengan semangat juang yang tinggi,...'pagah praye' yang selama ini dia kenal diaktualisasikan dalam semangat belajar..belajar dan belajar terus!
Langganan:
Postingan (Atom)




